see.the.world.with.me

where there is love, there is life.

  • 16th February
    2014
  • 16
Friendship is unnecessary, like philosophy, like art. It has no survival value; rather it is one of those things which give value to survival.
C. S. Lewis
  • 5th February
    2014
  • 05
You couldn’t relive your life, skipping the awful parts, without losing what made it worthwhile. You had to accept it as a whole—like the world, or the person you loved.
Stewart O’Nan
  • 3rd February
    2014
  • 03
  • 3rd February
    2014
  • 03
Tidak Selalu

Waktu tak selalu bisa mendewasakan seseorang. Tidak selalu waktu menjawab semua pertanyaan. Banyak hal yang tidak bisa dijawab oleh waktu. Meski usia telah menua, tidak selamanya tindakan menjadi bijaksana. Meski banyak hal terlewati, tidak selamanya bisa belajar dari sana. Kemudian memahami.

Bicara tak selalu bisa menyentuh jiwa. Tidak selalu bicara bisa menawar segala tanya. Kadang diam jauh lebih bisa memberikan jawaban. Diam adalah salah satu bentuk bicara kan?

  • 30th January
    2014
  • 30
It ain’t what they call you, it’s what you answer to.
W.C. Fields
  • 29th January
    2014
  • 29
Bila setiap orang ‘baik’ menginspirasi orang lain untuk berbuat ‘kebaikan’ demi kepentingan bersama, tentu Indonesia bisa menjadi lebih ‘baik’.
Gitaditya, Relawan Panitia Surat Semangat
  • 29th January
    2014
  • 29
Sebagian orang mencukupkan diri dengan kemampuan membaca. Namun, sebagian lain yang tetap menyala, menjadikan kemampuan membaca sebagai salah satu batu pijakan untuk berada dalam kehidupan yang lebih baik.
Rizki Saputri, Internee Divisi Public Engagement Indonesia Mengajar
  • 29th January
    2014
  • 29
Kualitas manusia tidak tergantung pada pendidikan formal semata, tetapi juga terbentuk dari pengalaman perjalanan hidup. Semakin beragam pengalaman, semakin kaya wawasan; dan pengembangan manusia semakin berkualitas.
Felia Salim, dalam Surat Semangat untuk guru di Maluku Tenggara Barat
  • 29th January
    2014
  • 29
Menggerakkan semesta memang tidak pernah mudah. Namun, rumus dasar sejak dulu selalu sama: mulailah lebih dahulu, berilah lebih dari yang diminta.
Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar
  • 26th January
    2014
  • 26
The music in his laughter had a way of rounding off the missing notes in her soul.

Gloria Naylor

  • 26th January
    2014
  • 26

Its love,
when a little girl puts her energy to give dad a head massage.

Its love,
when a wife makes tea for husband and take a sip before him.

Its love,
when a mother gives her son the best piece of cake.

Its love,
when your friend holds your hand tightly on a slippery road.

Its love,
when your brother messages you and asks did you reach home on time.

Love is not just a guy holding a girl and going around the city.
Love is when you send a small message to your friends to make them smile.
Love is actually another name for care.

(via moeyhashy)
  • 23rd January
    2014
  • 23
Even when God seemed to have abandoned me, He was watching. Even when He seemed indifferent to my suffering, He was watching. And when I was beyond all hope of saving, He gave me rest. Then He gave me a sign to continue my journey.
Pi Patel - Life of Pi (via titiiswari)
  • 22nd January
    2014
  • 22
UI, ITB, UGM : Versus or Featuring?

superzupper:

+1

Logo UI-ITB-UGM

“Jelas UI lah paling oke.. Siapa si yang gak kenal sama jaket kuning?”

“ITB gak tertandingi! Teknik paling bagus seIndonesia gitu..”

“UGM donk! Perusahaan kalo mau rekrut pegawai pasti yang pertama dituju UGM!”

Begitulah kira-kira perdebatan untuk memperebutkan tahta menjadi perguruan terbaik di Indonesia ini terus terjadi sejak bertahun-tahun silam. Secara kuantitatif, penilaian rangking banyak dilakukan oleh beberapa lembaga survei independen seperti QS dan Webometric. Kita bisa dengan mudah melihat  siapa lebih di atas, siapa yang ada di antaranya, dan siapa yang ada di urutan terbawah (tergantung borang penilaian). [VISIT -> http://www.topuniversities.com/university-rankings/asian-university-rankings/2011]

Semua orang juga bisa membaca tabel dari QS tersebut dan melihat bahwa UI berada di urutan 50, UGM di urutan 80, dan ITB di urutan 98 se Asia. Namun, apa yang seharusnya kita interpretasikan dari data tersebut? Apakah kesimpulannya anak UI lebih unggul daripada UGM dan ITB? TIDAK, BUKAN SEPERTI ITU! Sama sekali tidak penting siapa ada di urutan berapa, yang paling esensial adalah ke arah mana kita menuju.

Jika kita lihat tabel dari situs asli QS, maka kita bisa mempelajari dengan seksama bahwasanya ada 49 universitas lain dari seluruh Asia yang posisinya ada di atas UI. Universitas-universitas unggulan di Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara-negara Asia lain seperti Hongkong, Jepang, dan Singapura.

Kenapa bisa demikian? Padahal kita tahu bahwa banyak mahasiswa baik dari UI, ITB, maupun UGM yang sangat cemerlang dan memperoleh penghargaan di tingkat internasional. Kita punya profesor-profesor yang menunjang setiap kegiatan akademis kita, fisik kampus kita bagus, fasilitas lengkap, akses terhadap informasi memadai, tetapi baik UI, UGM, dan ITB masih sulit mengejar ketertinggalan dibandingkan kampus-kampus seperti HKUST, NUS, bahkan UM (Malaysia) di level Asia ini.

Seperti ilustrasi dialog di atas, para mahasiswa kita justru lebih banyak memperdebatkan siapa yang berhak meraih posisi pertama di Indonesia, bukannya mencari tahu kenapa kita belum bisa menyalip saingan-saingan berat kita dari luar negeri. Sentimen-sentimen negatif, kepicikan, dan persaingan tidak sehat sering terjadi ketika mahasiswa UI bertemu dengan ITB juga UGM dalam berbagai ajang kompetisi. Arogansi almamater kerap dinomorsatukan daripada kebanggaan akan satu identitas yang sama, INDONESIA.

Apa saja kemungkinan yang menyebabkan mahasiswa kita menganggap kampus satu dengan lainnya harus bermusuhan? Barangkali mereka pikir hal ini menjadi salah satu ajang pertarungan hidup dan mati untuk mereka bisa mendapatkan kesempatan beasiswa ke luar negeri. Dan yang lebih krusial tentu saja alaumni kampus yang satu akan menganggap alumni kampus lain sebagai rival saat mencari pekerjaan.

Untuk itulah kita harus mulai membangun paradigma baru karena UI, UGM, maupun ITB sejatinya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Kita telah menerima amanah besar sebagai pelita peradaban ilmiah di negeri ini. Tegakah kita terus mengejar ambisi pribadi/golongan tertentu saja dan malah mengorbankan rintihan ratusan juta rakyat kita yang menanti akan kehidupan yang lebih baik di luar sana?

Seharusnya mahasiswa UI, UGM, dan ITB mulai menegakkan kembali tiang-tiang pancang negeri ini yang sudah runtuh. Pekerjaan ini bukan sesuatu yang mudah dan tidak akan mungkin bisa dilakukan sendiri. Di sinilah kita membutuhkan sinergi yang nyata antar kampus.

Kita sangat butuh untuk memulai membuka dialog untuk ikut berpikir secara kritis apa yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk negeri ini. Banyak kombinasi prestasi antara UI, UGM, dan ITB yang bila diimplementasikan akan berdampak masif untuk masyarakat. Hal ini bisa dilakukan oleh masing-masing mahasiswa secara mandiri, tidak perlu menunggu perintah dari organisasi formal seperti BEM atau Ikatan Mahasiswa.

Setumpuk hal menyenangkan bisa kita lakukan bersama-sama, misalnya saja mahasiswa Teknik Material UI dan Teknik Material ITB bisa melakukan riset bersama untuk mengkreasikan sel surya bagi kepentingan listrik desa-desa terpencil, mahasiswa FE UI dan FE UGM bisa mulai membangun banyak UMKM untuk memberdayakan masyarakat marginal, mahasiswa Arsitektur ITB bisa bekerja sama dengan Arsitektur UGM mengikuti pameran-pameran internasional demi mempromosikan keunikan rumah-rumah tradisional Indonesia, dan terakhir ketiganya mungkin bisa ikut mengkontribusikan kemampuan terbaiknya untuk membangun sebuah industri pertambangan sehingga kita bisa terbebas dari cengkeraman perusahaan-perusahaan tambang asing yang sudah mengeruk habis kekayaan alam kita.

Dengan kerja sama tersebut, kita juga bisa ikut mendorong agar rangking ketiga kampus ini bisa lebih terangkat naik. Mungkin kita harus menjadikan target UI, UGM, dan ITB setidaknya bisa tembus 10 besar Asia. Setelah ketiga kampus tersebut bisa masuk ke 10 besar, maka ketiganya akan bisa menarik serta kampus-kampus lain di Indonesia untuk meningkatkan kualitasnya hingga merangkak naik menyusul.

Jika tiap kampus masih terus berjalan sendiri, pasti akan sulit sekali mengungguli kampus-kampus negara maju itu. Contohnya saja UI yang tahun 2009 menempati peringkat 201 terbaik dunia, tetapi tahun 2011 malah merosot menjadi rangking 217. Bagaimana nasib UI di masa depan dan apakah UGM dan ITB harus mengalami hal yang serupa?

Banyak hal lain yang bisa kita lakukan dan dapatkan sebenarnya dari sini. Ambil contoh seandainya ada salah seorang alumni UI yang kuliah di Jepang dan dia mengetahui akan ada konferensi roket internasional. Maka meskipun bukan almamaternya, ia akan tetap mengajak kawan-kawannya dari Teknik Dirgantara ITB untuk berpartisipasi. Misalnya lagi ada alumni ITB di Swiss yang mengetahui ada program short research di CERN, maka ia tidak akan sungkan mengompor-ngompori temannya dari Teknik Nuklir UGM untuk ikut mendaftar. Dan bila ada mahasiswa Komunikasi UGM mengetahui akan ada seminar mengenai submarine di London yang masih mencari nara sumber, maka dia akan langsung menawarkan untuk mengundang lulusan Teknik Perkapalan UI. Ini adalah beberapa karakter yang mengedepankan kepentingan bangsa dibandingkan egoisme pribadi.

Pola pemikiran berebut job vacancy bagi lulusan UI, UGM, dan ITB seharusnya sudah dibuang ke tong sampah sejak dulu. Untuk apa kuliah di kampus terbaik jika akhirnya kita hanya menjadi karyawan perusahaan-perusahaan asing dimana seberapa keraspun kita bekerja tidak akan pernah menyentuh jabatan teratas. Rencana hidup setelah lulus akan bertitel sebagai JOB SEEKER seharusnya diubah menjadi JOB GIVER.

Bayangkan saja, apabila banyak lulusan kampus tersebut bisa menggalang kekuatan untuk bersatu menumbuhkan industri-industri baru di negara kita, tentu negara kita seperti diberikan jet engineyang bisa membuatnya terbang ke atas dalam waktu yang singkat. Selain itu, jika alumni UI, UGM, maupun ITB yang berprestasi bisa dikumpulkan dalam satu wadah, maka kita tidak perlu repot-repot lagi mencari mata air ilmu dari negara lain.

Justru kita bisa menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara maju yang menjadi tujuan orang asing untuk memperoleh pendidikan. Jadi, pemikiran-pemikiran linear bak mencari kerja setelah kuliah ataupun mengais beasiswa di luar negeri seharusnya bisa direkayasa agar kita justru yang memberi kerja serta menebarkan banyak kesempatan beasiswa.

“Para Visioner adalah orang-orang yang pemikirannya Out of The Box” (Prof Gumilar Rusliwa Soemantri – Rektor UI)

Nasionalisme bisa ditumbuhkan kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun. Kecintaan pada negeri ini tidak ditunjukkan dengan cara menyanyikan Indonesia Raya keras-keras di tengah Bundaran HI. Cinta butuh pembuktian, cinta butuh pengorbanan! Perasaan senasib dan seidentitas bisa menjadidriving force yang sangat baik agar kita tetap konsisten bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan 250 juta rakyat Indonesia. Hanya orang CUPU yang masih bersikap egois dan arogan.

Kita harus bisa bertindak lebih cekatan dan melihat peluang-peluang apa yang semenjak dahulu luput dari penglihatan kita. Di saat-saat kritis seperti ini, kita bukan hanya perlu berjalan maju, kita butuh loncatan besar untuk meraih cita-cita mulia bangsa ini.

“AYO BEKERJASAMA! Tidak ada peradaban besar yang bisa dibangun sendirian, sekalipun oleh orang yang hebat. Semua harus didukung dengan kerjasama, antara yang satu dengan yang lainnya.” (Eep Syaifullah)

(via thriea)

(via yonikaa)

  • 21st January
    2014
  • 21
  • 21st January
    2014
  • 21

visualgraphc:

Book: Creative Lettering: Techniques & Tips from Top Artists byJenny Doh

Hand-lettering techniques are a popular and visually dynamic way to add textual elements to crafts, from journals to mixed-media art. Sixteen accomplished contributors—including calligraphers, painters, collagists, card makers, fiber artists, and graphic designers—give their personal perspectives on lettering” - Amazon description.